Kisah Tragis Harimau Sumatera Mati Di Ujung Tombak Warga

Seekor Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) mati setelah terjadi konflik dengan warga di Dusun Kuala Indah, Desa Terang Bulan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara tanggal 25 Mei 2017. Keberadaan harimau yang mememasuki area pemukiman, membuat warga khawatir, dan terpaksa membunuhnya. Setelah tewas hewan langka ini kemudian diletakkan
tepat di depan jalan umum dusun Kuala Indah. Kejadian langka inipun menjadi tontonan warga sekitar.

Keberadaan pemukiman dusun Kuala Indah berada sekitar sepuluh kilometer persis di bawah kawasan hutan Bukit Barisan. Rusaknya hutan diduga akibat perambahan dan terpisahnya harimau dengan induknya, menjadi penyebab masuknya harimau ke areal perkampungan dan terjadi konflik. Sebelum mati, Harimau ini sempat memangsa dua ekor anjing milik warga, bahkan warga nyaris diterkam harimau sebelum akhirnya menyelamatkan diri dengan memanjat pohon. Melihat adannya harimau yang masuk kepemukiman, warga sempat mengadakan ritual untuk meminta raja hutan agar tidak mengganggu warga dan kembali ke habitatnya.

Peristiwa keluarnya Harimau Sumatera dari dalam hutan pertama sekali diketahui oleh seorang warga yang bekerja sebagai penderes pohon karet pada tanggal 17 Mei 2017 Tepatnya di kilometer 5 Dusun Kuala Indah, Desa Terang Bulan, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Propinsi Sumatera Utara. Kemudian berlanjut, keluarnya harimau terjadi beberapa hari sejak 23-25 Mei 2017, Harimau semakin mendekati perkampungan warga, banyak warga yang menyaksikan harimau berada di belakang dapur warga. Namun tepat tanggal 25 Mei 2017 pukul 09:00 WIB, harimau terjebak di  perkampungan Kuala Indah, Harimau muncul di jalan ampung dan sempat mau masuk kepemukiman warga, dan sempat mengejar ternak peliharaan warga seperti Ayam dan Anjing. “Lompat dibatang jambu ini, dia mau menangkap ayam, pergi kesana sampai disana dikelilinginyalah rumah si Agung (warga), ditangkapnya bebek, dimakannya sampai putus kepalanya, jadi warga kampungpun sudah banyak yang datang dan kesepakatan kami pak atas nama dusun Kuala Indah mengambil sikap kompak, apapun ini, membahayakan dari pada makan korban nyawa manusia, maka kami siap sama–sama membunuhnya” terang warga dusun Kuala Indah Melihat keberadaan harimau di kampung, akhirnya warga Kuala Indah bermufakat untuk melumpuhkan harimau tersebut, tepatnya pukul 10:15 WIB puluhan warga langsung melakukan pengepungan harimau dengan menggunakan senjata tajam berupa tombak, golok, dan sebagainya.

Di lokasi kejadian sempat ada permasalah dengan masyarakat yang tidak
bersedia menyerahkan bangkai harimau, setelah berdialog yang cukup lama
dengan masyarakat, Kepala Desa, BBKSDA SUMUT, Danramil, Kapolsek, dan
TIME, akhirnya harimau dapat diambil dan dibongkar.

Perjumpaan dengan harimau, arga langsung menombak harimau yang mengenai tepat di bahagian kepala dekat mata,
berapa menit kemudian harimau tersebut langsung terjatuh ketanah dan akhirnya mati. Setelah mati menurut warga harimau tersebut baru dapat diketahui berjenis kelamin jantan. Warga langsung berdatangan kelokasi, banyak warga yang menyaksikan dan menviralkan dokumentasi gambar dan video, bahkan ada rekaman warga yang dengan sengaja memegang ekor bahagian tubuh harimau. Khawatir bangkai harimau tersebut menimbulkan aroma tak sedap, warga langsung menguburkan harimau tepat di halaman warga, dan sebelum dikuburkan warga kampung melakukan ritual pemberian ulos dan acara itu dihadiri kepala desa
disaksikan oleh warga. Mendapatkan informasi sekitar pukul 12.00 WIB, TIME langsung menghubungi pihak BBKSDA
SUMUT, dan selanjutnya Tim penanganan dari Bidang Wilayang II KSDA Pematang Siantar bergerak ke lokasi. Tim yang
dipimpin Kepala Seksi Wilayah III Kisaran (Zainudin) berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Aek Natas Rusbeny, SH untuk melakukan pengamanan barang bukti Harimau yang sudah mati dan telah dikubur disekitar rumah kepala dusun. Di lokasi kejadian sempat ada permasalah dengan masyarakat yang tidak bersedia menyerahkan bangkai harimau, setelah berdialog yang cukup lama dengan masyarakat, Kepala Desa, BBKSDA SUMUT, Danramil, Kapolsek, dan TIME, akhirnya harimau dapat diambil dan dibongkar.

 

Kapolsek AKP Rusbeny, SH mengatakan terjadi perdebatan dengan warga saat mengevakuasi bangkai harimau yang telah
dikubur selama 12 jam tersebut. Setelah melakukan diskusi dan penjelasan tentang Harimau Sumatera merupakan satwa
yang di lindungi oleh undang-undang, pihak warga akhirnya memperbolehkan mengambil bangkai hewan oleh BKSDA Wilayah 2 Sumut untuk di otopsi, diteliti dan diselidiki lebih lanjut. “Sempat terjadi perdebatan alot, setelah disosialisasikan bahwa satwa harimau itu dilindungi, barulah warga mengijinkan membawanya,” ujarnya. Benny menambahkan, ukuran panjang bangkai harimau sumatera berkelamin jantan dengan panjang 1,2 meter dan berat lebih kurang 50 kg, mengalami luka mengangga dibagian kepala dan leher akibat tusukan benda tajam.

Kulit didahi hingga mata terkelupas hilang. embaga Tindakan Investigasi Memantau Ekosistem (TIME) Sumatera, Budi Awaluddin, ST yang ikut mengevakuasi bangkai harimau sumatera itu menyayangkan tindakan warga yang telah membunuh satwa dilindungi tersebut. Menurutnya, turunnya harimau dari hutan ke pemukiman warga disebabkan oleh kerusakan dan sempitnya kawasan hutan di Kabupaten Labuhanbatu Utara yang telah berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit, hingga satwa tersebut sulit mencari makan. Dia berharap, warga yang bermukim di kawasan hutan, terkhusus di kawasan Bukit Barisan diberikan sosialisasi dan pemahaman konservasi tentang satwa dan tumbuhan yang
dilindungi serta pelatihan penanganan konflik satwa. Karena informasi tersebut penting untuk pengelolaan dan pelestarian hutan dan menjaga keberlangsungan kehidupan satwa langka serta menjaga ekosistem di Sumatera Utara Sekitar pukul 02.00 WIB, tanggal 26-05-2017, harimau di bawa dari lokasi menuju Polsek Aek Natas, untuk selanjutnya akan dibawa ke Medan oleh BBKSDA yang nantinya akan dilakukan Otopsi. Pada pukul 03.00 Wib, Serah terima Harimau Sumatera oleh Kepala Desa ke BBKDSA Sumut, TNI dan TIME Sumatera.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara menyatakan bahwa Berdasarkan studi perilaku harimau liar, bahwa keberadaan satwa harimau disuatu pemukiman kemungkinan adalah:

    1. Harimau tua, yang sudah tidak sangup bersaing dengan harimau yang lain untuk mendapatkan mangsa dan teritorial. Dia datang kepemukiman agar mudah mendapatkan satwa mangsa berupa hewan ternak dan atau hewan peliharaan (anjing, kambing, dll) – Harimau muda yang sedang belajar berburu. Harimau rentang usia ini sedang belajar berburu dan menggunakan satwa ternak yang tidak dikandangkan atau satwa peliharaan (anjing, kambing, dll) sebagi satwa sasaran buru. Harimau ini akan menimbulkan kerugian cukup besar dikarenakan dia/mereka akan melukai lebih dari satu korban hanya untuk belajar berburu bersama induknya.
    2. Harimau sakit, yang sudah tidak sangup bersaing dengan harimau yang lain untuk mendapatkan makan. Dia datang kepemukiman agar mudah mendapatkan satwa mangsa berupa hewan ternak dan atau hewan peliharaan (anjing, kambing, dll).
    3. Kerusakan hutan yang merupakan habitat harimau akibat pembukaan lahan dan penebangan liar. Dari hasil pulbaket kejadian matinya harimau di desa Terang bulan didapatkan keterangan:
      • Harimau mati akibat luka terbuka dengan senjata tajam yang mengakibatkan luka terbuka hingga tengkorak kepala (bacokan).
      • Bagian tubuh yang hilang : alat kelamin, kulit bagian kening, kumis dan ujung ekor.
      • Terdapat luka lamabekas jerat pada keduakaki
      •  Diduga harimau korban tersebut adalah harimau dewasa yang sedang sakit akibat luka jerat. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya bekas luka lama pada kaki kanan depan dan salah satu kaki belakangnya.

Jasad harimau dievakuasi ke kantor Balai besar KSDA Sumut di Medan untuk proses pengawetan sebagai bahan penyelidikan dan untuk dapat dimanfaatakan sebagai sumber ilmu pengetahuan nantinya. BBKSA juga menambahkan sebagai catatan :

  1. Bahwa pada saat ini di Kabupaten Labuhanbatu Utara terdapat indikasi perdagangan illegal harimau Sumatera maupun bagianbagiannya. Hal ini diindikasikan dengan telah beberapa kali terjadi harimau terjerat yang tidak dapt diselamatkan jasadnya (tercatat pada tahun 2014 terdapat harimau terjerat yang jasadnya hilang, dan dari informasi juga terjadi pada tahun 2015 dan
    2016). Dengan demikian perlu dilakukan upaya penyidikan lebih lanjut. Untuk mengungkap penyebab kematian dan motif pembunuhan, Balai Besar KSDA sumut telah berkoordinasi dengan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan dan Kehutanan Wilayah I Sumatera.
  2. Tingginya angka konflik harimau dan manusia diindikasikan akibat kerusakan habitat harimau di Hutan sekitanya akibat pembukaan lahan dan penebangan liar (hutan produksi).
  3. Pada areal hutan disekitar Kecamatan Aek Natas juga menjadi habitat bagi satwa langka yang komersil selainnya seperti rangkong dan beruang.

One thought on “Kisah Tragis Harimau Sumatera Mati Di Ujung Tombak Warga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *