KAWASAN KONSERVASI SUAKA MARGASATWA DOLOK SURUNGAN TOBASA DI KUASAI PULUHAN PERAMBAH

TIME/Tobasamosir/20-Oktober-2015

Dua ratus hektar areal Konservasi Suaka Margasatwa Dolok Surungan Toba Samosir, Sumatera Utara dikuasai dan ditempati puluhan penggarap mengatasnamakan kelompok tani SETASI. Hasil investigasi TIME, warga yang berasal dari Desa Meranti Timur melakukan perambahan di kawasan SM.Dolok Surungan, Pembukaan lahan serta Pembakaran arael konservasi tersebut berlangsung mulai dari bulan april tahun 2015 hingga sampai saat ini.

Sedikitnya dua ratus hektar lebih areal konservasi di Sm Dolok Surungan, meranti timur, Pintu Pohan, Toba Samosir kondisinya rata dengan tanah, hal itu akibat pembuka lahan dan pembakaran yang dilakukan puluhan penggarap yang mengatasnamakan sebuah kelompok tani Setasi.

Gopar sarumpaet ( Ketua Kelompok Tani Setasi) mengatakan “ tidak ada disini SM.Dolok Surungan, tidak ada disini hutan konservasi, ini hutan tanah nenek moyang kami sejak tahun 1800 an hingga sampai saat ini, menurut gompar. Tanah yang diwariskan sama kami sebanyak 900 ha, sekarang kami sudah membuka 200 ha, akan kami tanam padi, ditambahkan gompar. Kami juga memiliki bukti-bukti. Kata gompar sarumpaet.

Ditempat terpisah, di Polres Tobasa, Joko Istanto BBKSDA SUMUT mengatakan” Benar, ada perambahan di kawasan SM. Dolok Surungan, membuka hutan pada bulan April 2015, kita BBKSDA langsung beraksi serta mendatangi perambah dan melakukan pemanggilan warga perambah agar membuat pernyataan tidak masuk kedalam kawasan. tetapi itu tidak membuat efek jera, selanjutnya kita akan melakukan operasi eksekusi gabungan yang melibatkan instansi terkait untuk melakukan tindakan.

seluas 13.000 Ha, sebagaimana yang ditetapkan Surat Keputusan Zelfbestuur tanggal 25 Juni 1924 Nomor 50. Dan baru pada tahun 1974, tepatnya tanggal 2 Februari 1974, berdasarkan Surat Menteri Pertanian No. 43/Kpts/Um/2/1974 ditetapkan kedua kawasan tersebut (Dolok Surungan dan Dolok Sihobun) menjadi kawasan Suaka Margasatwa Dolok Surungan dengan luas 23.800 Ha.

(www.dephut.go.id/INFORMASI/PROPINSI/SUMUT/SM_DolokSurungan) Investigasi dengan salah seorang perambah, mengatakan” kami membuka hutan dengan membayar kepada pengurus kelompok tani senilai 2.500.000 untuk perdua hektar, kata pengurus kelompok tani. untuk biaya perjuangan. Setiap pertemuan kami juga membayar 150 perorang, semua kelompok tani Setasi berjumlah 120 orang yang membuka hutan. Hutan yang dibuka, nantinya kami tanam padi terlebih dahulu, setelah itu baru kami tanam sawit. pada saat ditanya proses penumbangan hutan, perambah mengatakan” kami menebang setelah ditebang kami imas, bersihkan dahulu, kemudian membakar. kata salah seorang perambah yang tidak disebutkan namanya” Sangat miris jika kita melihat lokasi SM Dolok Surungan saat ini, dikordinat yang diambil menggunakan GPS, tidak satupun batang pohon tampak berdiri dilokasi pembukaan perambah, hanya pangkal batang pohon bekas bakaran yang tampak terlihat diareal konservasi. Dan tanaman-tanaman padi yang sudah hijau ditanam oleh perambah. Ironisnya tanaman bibit kayu hutan seperti meranti ,petai, yang baru ditanam dua tahun lalu juga turut terbakar.

Jika pemerintah tidak tanggap dalam permasalahan kerusakan perambahan dan pembakaran yang beralangsung diareal Konservasi Sm Dolok Surungan yang dilakukan penggarap akhir akhir ini, dikhawatirkan lokasi Sm Dolok Surungan seluas 23.800 ha yang berada diwilayah Tobasa – Asahan – Labuhanbatu Utara akan tinggal kenangan, sm dolok surungan yang didalamnya terdapat hidup satwa liar seperti harimau,tapir ,rangkong dan primata, dikhawatirkan mereka akan punah,karena ekositem meraka telah rusak.ditambah sm dolok surungan juga merupakan serapan air danau toba.

Hasil Investigator kejahatan hutan (Forest Crime) TIME, mengatakan “ menurut UUD Tahun 1990 – No 5 Pasal 19 Ayat 1 : Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam. Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). TIME juga memiliki data para pelaku kejahatan Forest Crime, TIME juga mengutuk keras aksi puluhan penggarap yang nekat membakar areal konservasi. dan pengarap harus bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di SM Dolok Surungan. Besar harapan time,pemerintah harus tegas terhadap aksi perambahan areal konservasi.(TIME-08)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *